Mata, mulut, dan anus mayat akan dijahit agar udara tidak masuk ke tubuh mayat. Hal ini bertujuan untuk menghindari pembusukan. Sedangkan kaki, lidah, dan telapak tangan itu dipotong sebagai hidangan untuk disantap oleh pasangan yang hidup. Sisanya dibuang ke lubang api untuk diasapi. Setelah proses diasapi, tubuh mayat dilapisi dengan tanah liat dan lempung merah kemudian dipajang di dinding tebing. Lempung yang dioleskan itu untuk melindungi tubuh mayat untuk menghindari kerusakan. Namun kini seiring berkembangnya zaman dan ajaran agama Kristen yang telah dikenal oleh masyarakat Suku Angga, tradisi ini kini telah dihentikan dan diganti dengan penguburan secara agama Kristen.
Jadi perhatian pakar internasional
Cerita mengenai pengasapan mayat dan tradisi memumikan mayat ini mulai menarik perhatian pakar internasional. Ketika itu, pada 2008, kondisi kepala desa di daerah Papua Nugini bernama Moimango telah memburuk selama beberapa dekade saat dia duduk di sisi tebing kira-kira 1.000 kaki di atas dasar lembah.
Moimango telah menghabiskan cukup banyak waktu di tebing sejak dia meninggal pada awal 1950-an. Setelah kematiannya, dia dimumikan dalam proses tradisional yang telah dilakukan secara turun-temurun oleh masyarakat Angga di dataran tinggi Papua Nugini bagian tengah utara. Tetapi putranya, Gemtasu, seorang pemimpin klan di desa Koke, yang terletak di bawah tebing khawatir kehilangan hubungan mendalam dengan ayahnya karena tubuhnya menurun.
Gemtasu ingin merestorasi mayat mumi ayahnya dan menghidupkan kembali mayatnya pada proses mumifikasi tradisional yang mulai ditinggalkan. Gemtasu khawatir ritual mumifikasi, yang telah diturunkan dari generasi ke generasi akan hilang.
Mungkin Anda mengenal tradisi mumi dari Mesir yang terkenal memumikan orang mati, sehingga mereka dapat melakukan perjalanan utuh ke alam baka spiritual mereka, praktik tersebut tidak memiliki konotasi yang sama di antara orang-orang Angga.