Dia berharap, di masa mendatang akan ada lebih banyak lagi film komersial yang diproduksi di Banyumas, sehingga bisa terbentuk iklim industri film daerah yang ikut memperkaya khasanah perfilman Indonesia.
"Tentu tidak akan instan, perlu waktu dan perjalanan panjang untuk menuju ke sana, akan tetapi paling tidak film Tarian Lengger Maut ini sudah menjadi pembuka jalan bagi industri film di daerah," kata Eye.
Libatkan Seniman Senior
Tidak main-main, dalam proses pembuatannya, film ini melibatkan para seniman senior. Salah satunya, seniman calung tradisional yang akrab disapa Pak Kendar dan seniman Lengger senior atau sinden yang dikenal dengan Bu Kendar.
Mereka terlibat langsung dalam persepsi budaya hingga proses pembentukan karakter pemain di film, bernama Sukma.
Aryanna Yuris yang juga produser film Tarian Lengger Maut mengatakan, keterlibatan para seniman Banyumas sangat membantu pembuatan film. Menurutnya, Pak Kendar, adalah penabuh kendang sekaligus salah satu dari sedikit pengrajin calung yang masih bertahan. Dia telah menjadi penabuh sejak muda sejak 1960an.
Dalam kesempatan tersebut, Pak Kendar mengatakan, kesenian lengger lahir dari rakyat Banyumas yang mayoritas adalah petani, jauh dari pengaruh keraton. "Ini terlihat dari gerakan tari yang lebih lugas sesuai dengan karakter orang Banyumas yang blakasuta berbicara dan berlaku apa adanya," kata Pak Kendar.