Menurut dia, memahami multikulturalisme juga untuk menghindari sejumlah hal negatif seperti disparitas kelompok ekonomi atas dan bawah serta menghindari salah paham antar budaya yang kerap menjadi sebab konflik sosial.
"Sebagai pengguna internet harus tahu kita berada di ruang yang berbeda-beda atau beraneka budaya dan keragamannya, tetapi tetap satu. Indonesia harus di atas segala-galanya,” kata dia.
Dosen Fisikom Universitas Pancasila, Anna Agustina menjaga etika dalam bermedia sosial sangat penting. Keberagaman masyarakat Indonesia tidak hanya mencakup dalam hal budaya dan agama, namun juga meliputi profesi, pendidikan, pendapatan, ataupun gaya hidup.
Anna menambahkan, warganet harus berhati-hati menyikapi perbedaan ini ketika berinteraksi di internet, yakni dengan saling menghormati antara sesama sesuai dengan nilai-nilai Pancasila. Internet sejatinya merupakan anugerah yang harus disyukuri, namun hal tersebut justru bisa berubah menjadi bencana jika teknologi dijalankan tanpa etika.
"Harus selalu menyadari kita berinteraksi dengan manusia nyata di jaringan lain, bukan sekadar dengan deretan karakter huruf di layar monitor, namun dengan karakter manusia yang sesungguhnya. Jadi, kita harus tetap berhati-hati agar tidak merugikan orang lain,” ujarnya.