Gereja Blenduk -bahasa Jawa yang berarti kubah- diapit bangunan-bangunan tua, seperti Kafe Spiegel dan Gedung Marba (singkatan nama pemiliknya yang seorang saudagar, Marto Badjoened). Di samping gereja terdapat Taman Srigunting dan sebuah galeri yang biasa dipakai untuk pameran lukisan. Sejumlah pedagang menjual berbagai barang antik, mulai dari seterika berbahan bakar arang hingga radio antik.
Di jalan yang menghubungkan Stasiun Tawang dan Gereja Blenduk, sebuah rumah kuno berwarna krem disulap menjadi markas salah satu calon presiden. Sedangkan di depan Stasiun Tawang, pabrik rokok Praoe Lajar masih berproduksi. “Ini lagi sepi karena hari libur,” kata seorang satpam. Sementara itu, sebuah hotel berdiri di muka kolam raksasa depan stasiun.
Namun, masih banyak bangunan yang tembok luarnya meranggas tanaman liar. Akar dan batang pohonnya menjalar di dinding. Kelelawar atau burung-burung menjadikan langit-langit bangunan tua sebagai sarangnya. Bila banyak bangunan bersemen temboknya terkelupas, serta batu batanya terlepas, bangunan yang terbuat dari kayu banyak lapuk oleh air hujan.
Selain sebagian bangunan tua yang sudah direnovasi, lahan parkir pun telah tersedia. Dibanding kawasan Kota Tua Jakarta yang ramai pedagang kaki lima, kawasan Kota Lama Semarang lebih tertata. Saya teringat sebuah lagu mendiang Leo Kristi 40 tahun silam, Pojok Kafe Simpang Lima. Pemusik balada itu mengabadikan Kota Lama Semarang, “Kemarin, hari ini, hari esok lubuk hati/cintaku tak kan sepi dalam mengabdi.”