Masyarakat hidup secara tradisional
Tak banyak yang bisa ditemukan di desa ini, rata-rata rumah penduduk masih dibangun dengan material kayu dengan atap seng, bahkan masih menggunakan atap daun kelapa atau sagu. Jalanan menuju desa juga cukup sempit yang terbuat dari semen, setidaknya hanya bisa dilalui dengan dua motor atau bagi para pejalan kaki. Bahkan, sebagian jalan hanya berupa tanah.
Halaman rumah warga juga masih cukup rimbun, ditumbuhi oleh berbagai vegetasi hijau yang bisa dibilang sebagian besar tumbuh secara alami. Mayoritas masyarakatnya juga bekerja sebagai petani dan menggantungkan hidup pada area perkebunan dan hutan yang mereka miliki. Di desa Madobak fasilitas pendidikan seperti sekolah hampir nihil, dan ada satu sekolah dasar yang bangunannya pun hanya terbuat dari papan dan beratap seng. Siswanya pun lumayan banyak.
Masih Gunakan Kabit
Jika ingin mengunjungi Desa Madobak, pengunjung harus tidur di rumah-rumah warga dengan kondisi apa adanya. Anda juga akan menemukan beberapa penduduk desa yang masih berpakaian serupa dengan kabit, yaitu nama pakaian lokal yang digunakan oleh masyarakat tradisional suku Mentawai. Biasanya pakaian lokal ini digunakan oleh laki-laki yang serupa dengan celana dalam alias cawat yang dibuat dari kulit kayu pohon baiko.
Para petani yang pergi ke kebun atau hutan, terutama bagi wanita warga Desa Madobak akan membawa keranjang berisikan peralatan berkebun. Tali keranjang di kaitkan di atas kepala. Sedangkan para pria membawa keranjang dengan cara digendong, serta mengenakan kabit. Para penduduk yang masih menggunakan pakaian tradisional tidak tinggal di Desa Madobak bersama warga lain, melainkan jauh di dalam hutan dan pegunungan. Biasanya mereka juga keluar atau turun ke area pedesaan untuk mencari bahan-bahan obat yang mungkin tak ditemukan di sekitar area tempat tinggalnya.
Diketahui, di desa ini tak hanya desanya yang masih asri. Di sini juga terdapat air terjun yang cukup indah dan sejuk, di mana masyarakat lokal menyebutnya dengan nama ‘Kulukubuk’. Air terjun ini memiliki dua tingkatan dengan tinggi kurang lebih 70 meter.
Inilah yang menjadi objek wisata bagi para pengunjung yang datang atau ada di sekitar Desa Madobak untuk rekreasi. Tak tanggung-tanggung wisatawan ini tak hanya datang dari warga lokal, tapi juga dari internasional. Untuk menuju desa ini, Anda bisa melalui Sungai Rereget dan membutuhkan waktu tempuh 3 jam.