Sebagian besar penduduk berambut coklat kebiruan, putih, dan pirang merupakan ciri khas Kecamatan Lamno. Mereka tersebar di beberapa desa yang dulunya termasuk wilayah kerajaan Daya seperti Ujong Muloh, Kuala Daya, Gle Jong, Lambeso, dan Teumarem. Desa-desa ini terletak di pesisir barat Aceh dan berhadapan langsung dengan Samudera Hindia.
Banyak dijumpai orang bermata biru
Di Aceh, Lamno sering dikaitkan dengan beberapa orang bermata biru keturunan Eropa dan keberadaan kuil - makam Poteu Meurehom Daya. Di salah satu gampong Lamno, yaitu Desa Daya, Anda akan menjumpai beberapa orang yang berkulit cerah dan bermata biru. Menurut sejarahnya, Lamno, bahkan sebelum kedatangan Belanda di Aceh, merupakan kota dagang yang memiliki hubungan dagang yang baik dengan negara-negara Eropa seperti Portugal dan Spanyol.
Saat itu terjadi proses asimilasi dan banyak orang Eropa yang tinggal di sana dan menikah dengan perempuan setempat. Alhasil, hingga saat ini, sebagian keturunan mereka masih bisa dijumpai di antara penduduk Lamno. Selain yang sering hadir di layar kaca, manusia bermata biru di Indonesia ada di Aceh. Beberapa gadis muslimah di Aceh memiliki mata yang kecokelatan dan juga berambut pirang. Konon, mereka adalah keturunan Portugis yang pernah singgah di Aceh.
Asal usul mata biru
Ada dua versi cerita yang mengungkap asal usul Bule Lamno ini. Versi pertama menyebutkan, keturunan bermata biru ini berasal dari penjajahan Portugis di Aceh pada awal abad ke-16. Ketika bangsa itu akan mencari rempah-rempah di Indonesia mereka masuk ke Aceh dan akhirnya menetap di sana. Beberapa pria dari tentara menikahi gadis Aceh dan akhirnya menghasilkan keturunan dengan mata biru kecokelatan yang indah.
Selanjutnya versi kedua menjelaskan, keturunan si mata biru bernama Bule Lamno bermula ketika kapal perang Portugis terdampar di Aceh. Saat itu Raja Daya menangkap siapa saja yang masih hidup. Kalau mau ditolong harus masuk Islam, tapi kalau menolak dipersilakan kembali ke laut. Dari sini laki-laki Portugis menikah dan menghasilkan banyak keturunan.
Jumlah orang bermata biru menipis
Saat Aceh dilanda tsunami beberapa tahun lalu, banyak Bule Lamno ini yang akhirnya berpindah ke berbagai tempat. Rata-rata mereka memilih tinggal di kota yang mudah dijangkau. Bahkan, banyak dari keturunan ini yang hilang dan meninggal. Tercatat tak lebih dari 40 persen warga keturunan Portugis yang tersisa yang berhasil bertahan hidup. Akhirnya mereka memilih untuk meninggalkan kampung halaman tempat tinggal mereka dan memilih pergi ke daerah lain dengan komunitas kecil yang mereka bentuk.