"Jadi untuk arsitekturnya, ini berbentuk agak seperti kelenteng. Nah, kenapa seperti kelenteng? Karena awal mula di sinilah mengingat sejarah daripada almarhum Haji Abdul Soleh atau Tjia Kaang Hoo ini pada saat belum memeluk agama Islam atau belum mualaf, beliau ini keyakinannya bukan Islam sehingga kami abadikan dalam sebuah bangunan," kata Frans saat diwawancarai di Masid Tjia Kaang Hoo, Rabu (25/2/2026).
Namun jika diperhatikan lebih detail, arsitektur masjid ini ternyata merupakan perpaduan antara arsitektur Islam, Betawi dan Tionghoa. Hal itu dapat dilihat dari hiasan gigi balang khas Betawi yang terpasang di bagian luar masjid dengan sangat rapi dan presisi.
"Nah, ini seperti gigi (gigi balang) di depan ada disebutnya di Betawi, ini khasnya Betawi, ini adalah yang menonjol dalam budaya Betawi ini paling menonjol ini seperti ini," ucap dia.
Sementara, di bagian dalam terdapat kaligrafi Asmaul Husna atau 99 sifat Allah yang memenuhi tembok area imam sholat. Bahkan kaligrafi tersebut sangat mengkilap dengan balutan warna emas yang menghiasi setiap ukirannya. Lampu-lampu yang digunakan juga turut menambah kilauan emas yang terpancar dari kaligrafi tersebut.
"Di samping sebagai hiasan, kami juga menyisipkan pesan di sana. Artinya apa? Inilah sifat Tuhan kami, Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Jadi yang kami sisipkan kepada orang yang beribadah di sini, yang pertama jangan pernah ragu untuk selalu berdoa, selalu beribadah, jangan pernah ragu dengan apa yang dimiliki sifat daripada Tuhan kami Allah yaitu Allah Subhanahu Wa Ta'ala," ungkap Frans.