"Artinya, kalau diberikan vaksin kuadrivalen, ya, tidak masalah. Tapi, kalau diberikan vaksin trivalen, itu lebih efektif sesuai dengan kondisi sekarang," tambah Prof Iris.
Sementara itu, pertanyaan besar yang muncul adalah risiko bagi manusia jika virus Yamagata tiba-tiba kembali muncul sementara komponen pelindungnya sudah dihapus dari vaksin.
Menjawab kekhawatiran tersebut, Ketua Satgas Imunisasi Dewasa PB PAPDI dr. Sukamto, Sp.PD-KAI menekankan pentingnya sistem GISRS (Global Influenza Surveillance and Response System). Sistem surveilans global ini bekerja aktif 24 jam setiap hari untuk memantau perubahan genetik virus flu di seluruh dunia.
"Kalau ada perubahan epidemiologi, rekomendasi vaksin bisa langsung direvisi. Sistemnya dinamis, tidak kaku," tegas dr. Sukamto.
"Dan dari sisi produsen vaksin, kami pun siap dengan perubahan tersebut. Kalau memang ada strain baru, ya, kami perbaiki demi menjaga kesehatan masyarakat," ungkap Vidi Agiorno selaku Presiden Direktur PT Kalventis Sinergi Farma.