Menanggapi hilangnya virus ini, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengeluarkan rekomendasi terbaru bagi produsen farmasi untuk beralih dari vaksin kuadrivalen (4 strain) kembali ke vaksin trivalen (3 strain).
Ahli Alergi dan Imunologi Prof. Iris Rengganis menjelaskan, langkah ini diambil berdasarkan hasil pemantauan rutin WHO terhadap pergerakan virus influenza di seluruh dunia.
"WHO secara rutin melakukan pemantauan, dan sejak 2020 virus Yamagata tidak lagi ditemukan. Jadi, vaksin influenza trivalen dinilai lebih efektif di situasi sekarang," ujar Prof. Iris dalam diskusi kesehatan di Jakarta Pusat, Senin (4/5/2026).
Vaksin trivalen terbaru ini dirancang untuk melawan tiga jenis virus yang masih aktif bersirkulasi di alam, yaitu:
- Influenza A (H1N1)
- Influenza A (H3N2)
- Influenza B (Victoria)
Meskipun penggunaan vaksin trivalen tergolong baru bagi masyarakat Indonesia, beberapa negara maju telah lebih dulu menerapkannya. Amerika Serikat telah beralih sejak musim flu 2024-2025, disusul oleh negara-negara Eropa pada 2025-2026. Di Asia Tenggara, Thailand juga telah mengadopsi kebijakan serupa.
"Penggunaan vaksin trivalen di Indonesia saat ini masih dalam status transisi," tambah Prof. Iris.