"Yang lebih aneh lagi adalah pesawat ruang angkasa itu meninggalkan kawah besar dengan lebar 26 kaki (8 meter)," kata NASA sebagaimana dikutip dari Digital Trends.
Temuan mengejutkan itu diterbitkan pada 7 Juli di jurnal Science and Science Advances. “Hasil ini menambah intrik yang membuat para ilmuwan berada di ujung kursi mereka selama misi OSIRIS-REx, karena Bennu telah terbukti secara konsisten tidak dapat diprediksi,” kata NASA.
Memang, seperti yang dicatat oleh badan antariksa, Bennu menawarkan kejutan pertamanya ketika OSIRIS-REx tiba di asteroid pada 2018. Alih-alih menemukan permukaan yang menyerupai "pantai berpasir yang halus", yang disarankan oleh pengamatan teleskop dari Bumi dan luar angkasa, tim misi menemukan itu "dikotori dengan batu-batu besar."
Untuk mengetahui kepadatan permukaan asteroid, para ilmuwan menganalisis data akselerasi pesawat ruang angkasa dan gambar yang diambil selama proses pendaratan, dan kemudian menjalankan ratusan simulasi komputer hingga semua data cocok.
NASA mengatakan data itu dapat membantunya melakukan pengamatan jarak jauh yang lebih akurat tentang asteroid jauh, yang memungkinkannya membuat prediksi yang lebih baik jika ada yang ditemukan menuju ke arah kita.