“Seiring bertambahnya massa dan juga gravitasi, inti bintang yang masih sangat muda mengalami tekanan sangat besar sehingga inti bintang ini menjadi semakin panas dan sangat mampat. Dari sinilah reaksi fusi termonuklir dimulai. Setelah bintang selesai mengakresi materi di sekelilingnya, banyak piringan akresi yang tersisa. Dari sinilah planet terbentuk," ujar Andi.
Astronom mengira bahwa Jupiter berasal dari akresi butiran-butiran protoplanet (pebble accretion), yang diawali dari butiran-butiran kecil batuan es dan debu di dalam piringan. Ketika butiran-butiran ini mengelilingi bintang yang masih sangat muda, butiran-butiran tersebut mulai bertabrakan dan tarik-menarik dikarenakan gaya listrik statis.
Butiran-butiran ini kemudian membentuk gumpalan yang cukup besar dengan massa 10 kali massa Bumi. Oleh karena itu, butiran-butiran dapat menarik gas di sekeliling piringan tersebut.
"Sejak saat itu, Jupiter berkembang secara bertahap hingga massanya mencapai seperti saat ini, 318 kali massa Bumi atau seperseribu massa Matahari," imbuh Andi.
Andi melanjutkan, ketika Jupiter selesai menarik materi di sekelilingnya, dan massa yang dibutuhkan masih cukup jauh untuk membentuk fusi termonuklir hidrogen, Jupiter berhenti berkembang. Dalam artian, Jupiter tidak akan mencapai massa lebih besar dibandingkan dengan saat ini.