"Jadi rekam jejaknya bisa terlihat. Kalau sebelumnya pernah terlibat, sistem bisa mengenali pola tersebut," jelasnya.
Selain teknologi AI, pengawasan di lokasi ujian juga diperketat. Peserta dilarang membawa barang pribadi seperti handphone ke dalam ruangan. Mereka hanya diperbolehkan membawa kebutuhan tertentu seperti obat-obatan jika diperlukan.
Wakil Rektor I UNJ, Prof. Dr. Ifan Iskandar, menambahkan bahwa pihaknya juga menggunakan metal detector untuk memastikan tidak ada perangkat elektronik tersembunyi yang lolos ke ruang ujian. Langkah ini diambil berdasarkan pengalaman UNJ menemukan berbagai modus kecurangan di tahun-tahun sebelumnya.
"Peserta tidak perlu membawa apa pun di dalam ruang ujian karena mereka hanya perlu menandatangani album kehadiran, selebihnya kan menggunakan komputer. Tidak ada peralatan yang sifatnya personal yang diperkenankan dibawa masuk kecuali mungkin obat-obat yang memang diperlukan untuk kondisi tertentu," tegas Ifan.
Dengan kombinasi teknologi AI dan pengawasan berlapis, pelaksanaan UTBK SNBT 2026 di UNJ pada hari pertama terpantau berjalan lancar tanpa indikasi kecurangan. Panitia pun memastikan sistem ini akan terus dioptimalkan di sesi berikutnya demi menjaga integritas seleksi nasional.