“Terapi target anti-HER2, bila diberikan secara tepat, dapat memperpanjang kelangsungan hidup dan meningkatkan kualitas hidup pasien. Pemanfaatan AI juga dapat meningkatkan akurasi penilaian hingga sekitar 92 persen serta memperbaiki konsistensi antar-pemeriksa dari 66 persen menjadi 82 persen, terutama pada subkategori HER2-low dan HER2-ultralow, sehingga dapat memperkuat ketepatan klasifikasi dan pengambilan keputusan klinis,“ ujarnya.
AI Bantu Deteksi Dini Kanker Paru Lebih Efisien
Selain kanker payudara, AI bantu deteksi dini kanker paru melalui sistem skrining berbasis analisis citra CT scan. Kanker paru berdasarkan data GLOBOCAN 2020 menempati urutan ketiga sebagai jenis kanker dengan jumlah kasus baru terbanyak di Indonesia.
Kanker paru umumnya ditandai munculnya nodul atau benjolan yang tumbuh tidak terkendali dan berpotensi menjadi ganas. Nodul kanker biasanya berukuran lebih besar, berbentuk bergelombang atau tajam, serta memiliki tekstur semi-padat atau tidak padat.
Melalui algoritma khusus, AI mampu mendeteksi pola-pola mencurigakan yang terkadang sulit terlihat secara kasat mata. Teknologi ini membantu dokter mengidentifikasi potensi kanker sejak tahap awal.
“Dalam hal ini, proses skrining penyakit paru khususnya kanker paru dengan bantuan teknologi AI dapat membantu dokter melakukan deteksi secara lebih efisien,” kata Subspesialis Onkologi Toraks, dr Sita Laksmi Andarini, Ph.D, Sp.P(K).