Setahun setelahnya, Sapardi Djoko Damono dipercaya menjabat sebagai dosen tetap di Jurusan Sastra Indonesia, Fakultas Sastra, Universitas Indonesia. Kariernya di UI terus melesat dengan menjadi Pembantu Dekan III (1979-1982), lalu sebagai Pembantu Dekan I (1982-1996) hingga menduduki posisi Dekan (1996-1999).
Tak hanya menjabat sebagai dosen hingga dekan, Sapardi Djoko Damono juga sempat menjabat di redaksi majalah sastra Horison (1973), sekretaris Yayasan Dokumentasi Sastra H.B. Jassin (sejak 1975), anggota Dewan Kesenian Jakarta (1977-1979), anggota redaksi majalah Pembinaan Bahasa Indonesia, Jakarta (sejak 1983), dan masih banyak lagi.
Untuk mendukung bakat dan minatnya dalam sastra, Sapardi Djoko Damono sering mengikuti berbagai pertemuan internasional. Ia diketahui sempat hadir dalam Translation Workshop dan Poetry International di Belanda (1971), Seminar on Literature and Social Change in Asia di Australia National University (1978), dan lain-lain.
Beberapa buku yang ditulis Sapardi Djoko Damono adalah Sosiologi Sastra: Sebuah Pengantar Ringkas (1978), Novel Sastra Indonesia Sebelum Perang (1979), Kesusastraan Indonesia Modern: Beberapa Catatan (1999), Politik, Ideologi, dan Sastra Hibrida (1999), Sihir Rendra: Permainan Makna (1999), dan masih banyak lagi.
Tak hanya itu, ia juga menerjemahkan karya sastra berbahasa asing ke bahasa Indonesia. Karya-karya tersebut adalah Lelaki Tua dan Laut (The Old Man and the Sea, Hemingway), Daisy Manis (Daisy Milles, Henry James), Duka Cita bagi Elektra (Mourning Becomes Electra oleh Eugene O'Neill), Amarah I dan II (The Grapes of Wrath, John Steinbeck), dan lain-lain.