"Saya lihat ada beberapa dari peserta ini yang ternyata sedang bekerja. Jadi, saya senang juga bahwa teman-teman ternyata bukan sekedar reskilling tapi juga upskilling nanti di dunia kerjanya. Sehingga nanti produktivitas teman-teman yang sudah bekerja akan lebih meningkat lagi," ujar Neil.
Dia menilai AI kini bukan lagi sekadar teknologi, tetapi telah menjadi infrastruktur penting yang mampu meningkatkan produktivitas, kualitas karya, dan nilai ekonomi. Karena itu, Indonesia membutuhkan semakin banyak talenta AI untuk menghadapi disrupsi teknologi di masa depan.
Data Kementerian Komunikasi dan Digital menunjukkan Indonesia masih membutuhkan sekitar 600.000 hingga 1,2 juta talenta digital setiap tahun, baik dari sektor teknologi maupun subsektor ekonomi kreatif.
"Dan kita yakin kita akan menghadapi berbagai tantangan disrupsi kedepannya dan kita tentunya harus siap. Itulah kenapa kita juga di Ekonomi Kreatif ini mendorong teman-teman kreator untuk mulai masuk ke dalam dunia AI untuk mempelajari dan juga nantinya bisa menerapkan," ucap Neil.
Sementara itu, CEO Dicoding, Narendra Wicaksono, mengatakan pelatihan selama dua bulan tersebut berfokus pada pemahaman fundamental AI, mulai dari karakteristik, cara kerja, hingga teknik menyusun prompt untuk menghasilkan berbagai solusi, seperti pembuatan website, sistem keuangan, hingga kampanye produk.