"Pengalaman seperti itu jelas mengubah banyak hal. Saya rasa setelah semuanya tenang, pengalaman itu membantu saya membedakan mana yang benar-benar penting dalam hidup dan mana yang tidak."
Setelah pensiun, Solbakken langsung beralih menjadi pelatih. Sebelum insiden tersebut, dia sempat menjalani karier singkat di Inggris bersama Wimbledon pada musim 1997-1998. Meski direkrut dengan nilai transfer 250.000 pounds atau sekitar Rp6,07 miliar, dia hanya tampil enam kali sebelum dijual ke Aalborg.
Karier kepelatihannya mulai bersinar bersama Copenhagen. Lima tahun setelah serangan jantung, dia dipercaya menangani klub tersebut dan sukses mempersembahkan lima gelar Liga Denmark pada periode pertamanya. Setelah sempat melatih FC Koln di Jerman, dia menerima tawaran menangani Wolverhampton Wanderers pada Juli 2012.
Karier Solbakken di Wolves tidak berjalan mulus. Meski sempat membawa tim berada di papan atas Championship, performa mereka merosot hingga akhirnya dia dipecat setelah tersingkir dari Piala FA oleh klub nonliga Luton Town.
Solbakken kemudian kembali ke Copenhagen pada 2013 dan menghabiskan tujuh tahun berikutnya di sana. Total dia mengabdi selama 12 setengah tahun dalam dua periode dan menambah tiga gelar Liga Denmark lagi sebelum ditunjuk menjadi pelatih Timnas Norwegia pada Desember 2020.
Sempat berada di bawah tekanan setelah gagal membawa Norwegia lolos ke Euro 2024, Solbakken berjanji mundur jika tidak mampu mengakhiri penantian 28 tahun negaranya tampil di Piala Dunia.
Dia akhirnya menjawab tantangan tersebut dengan sempurna. Norwegia menyapu bersih delapan pertandingan kualifikasi, Erling Haaland mencetak 16 gol, Italia dipaksa menjalani play-off, dan kini Norwegia sudah mencatat empat kemenangan di Piala Dunia 2026. Mereka akan menghadapi Inggris pada babak perempat final dengan mimpi mencetak sejarah yang lebih besar.