Ibunda Pratama Arhan pedagang sayur keliling. Sedangkan ayahnya merupakan pekerja serabutuan.
Pratama Arhan mulai jatuh cinta dunia sepak bola saat duduk di bangku sekolah dasar. Saat itu dirinya bermain dengan bola plastik.
“Arhan dari kelas dua SD udah main bola plastik di depan rumah tetangga dengan anak-anak yang lain, karena di sini tidak ada lapangan bola,” tutur Surati.
Kemampuan Pratama Arhan berkembang saat masuk Sekolah Sepak Bola (SSB) Putera Mustika di Blora. Dia mengikuti jejak sang kakak yang menimba ilmu di tempat tersebut.
“Dia itu walaupun hujan, walaupun terik, tidak pernah bolos sekolah bola. Satu minggu itu tiga kali dia masuh terus, gak pernah absen bolanya,” ucapnya.