Eksperimen bukan hal baru bagi Arteta. Musim lalu, Merino pernah dicoba sebagai penyerang dadakan dan akhirnya tampil di semifinal Liga Champions. Havertz awalnya direkrut untuk lini tengah sebelum bertransformasi sebagai ujung tombak. Declan Rice pun berkembang dari gelandang bertahan menjadi box-to-box. Kini, Saka berpotensi mengikuti jejak evolusi tersebut.
Arteta memiliki tiga pendekatan utama jika mempertahankan Saka sebagai gelandang serang. Pertama, menjadikannya No10 tunggal di depan duet Declan Rice dan Martin Zubimendi. Skema ini memberi kebebasan besar bagi Saka untuk menyerang dengan perlindungan dua gelandang yang solid.
Kedua, memainkan dia sebagai No8 kanan. Posisi ini familiar karena sejak awal karier dia menguasai half-space kanan. Peran tersebut memungkinkan Madueke tetap di sayap, menjaga koneksi yang sudah terbangun. Di depan, Gabriel Jesus bisa bergerak fleksibel, turun ke tengah atau melebar untuk menciptakan ruang.
Ketiga, opsi lebih agresif dengan menempatkan Saka sebagai No8 kiri. Dalam skema ini, Eberechi Eze dapat naik mendukung serangan sementara Rice berdiri sebagai No6 tunggal. Pendekatan ini membuat Arsenal tampil lebih ofensif dengan ancaman dari berbagai sisi lapangan.
Belum tentu Saka akan rutin bermain di tengah saat seluruh pemain kembali bugar. Namun, Arteta sudah menanam keraguan di benak lawan. Dalam perebutan gelar yang ketat, satu kejutan taktik bisa menjadi pembeda. Saka kini bukan sekadar andalan di sayap, tetapi potensi motor baru di pusat permainan Arsenal.