“Bedanya adalah saya pakai uang sendiri, lebih tanggung jawab. Program latihan pun benar-benar sesuai dengan kebutuhan saya,” kata Jonatan sambil tersenyum.
Jonatan menjelaskan, ketika berada di pelatnas, perhatian pelatih dan tim medis terbagi untuk banyak atlet. Kini, ia justru merasa lebih diperhatikan.
“Orang yang saya hire hanya fokus ke saya. Kalau saya sakit, mereka pun ikut merasakan sakit itu. Jadi ada rasa kebersamaan yang lebih kuat,” jelasnya.
Proses rehabilitasi dan recovery kini menjadi prioritas. Menurutnya, keberhasilan di Korea Open adalah buah dari manajemen tubuh yang lebih terstruktur. Ia menekankan bahwa timnya memberi 100 persen perhatian, mulai dari latihan, terapi cedera, hingga menjaga kondisi fisik jelang turnamen.
Kemenangan ini menjadi simbol perubahan besar dalam kariernya. Jonatan merasa sistem profesional justru membuatnya lebih matang, baik secara teknis maupun mental.