Lebih lanjut, Keesh menegaskan bahwa kegagalan Indonesia harus dijadikan pelajaran penting bagi PSSI dalam merancang proyek jangka panjang. Dia menilai keberhasilan tidak bisa diraih hanya dengan pergantian nama besar, melainkan dengan kesinambungan program dan kepercayaan pada proses.
“Keputusan besar seperti ini seharusnya tidak diambil hanya demi citra atau kepopuleran. Indonesia sudah berada di jalur yang benar, tapi kini harus memulai lagi dari awal,” tulisnya menambahkan.
Meski memberikan kritik pedas, Keesh tetap menaruh rasa hormat pada perjuangan Timnas Indonesia. Menurutnya, pencapaian Garuda menembus babak keempat merupakan prestasi luar biasa bagi tim Asia Tenggara.
“Untuk saat ini, mari kita merangkul rasa sakit ini. Karena inilah jenis patah hati yang tidak banyak dialami oleh kita di Asia Tenggara,” kata dia.
Keesh menutup komentarnya dengan apresiasi tulus kepada para pemain dan suporter Indonesia yang tak berhenti memberikan dukungan. “Perjalanan tim ini luar biasa untuk diikuti. Terima kasih telah mengizinkan kami semua menjadi bagian darinya,” pungkasnya.
Kritik dari Keesh Sundaresan memperlihatkan pandangan objektif dari luar Indonesia bahwa masalah terbesar Garuda bukan pada semangat atau kemampuan pemain, melainkan pada arah kebijakan yang berubah di tengah jalan. Pergantian pelatih di saat momentum membaik justru membuat fondasi yang telah dibangun bertahun-tahun runtuh sebelum mencapai puncaknya.
Kini, PSSI diharapkan dapat menjadikan evaluasi ini sebagai refleksi. Sebab, kegagalan menuju Piala Dunia 2026 seharusnya bukan menjadi akhir, melainkan awal dari restrukturisasi yang lebih matang agar mimpi besar Indonesia tampil di panggung dunia bisa benar-benar terwujud di masa depan.