Chivu juga mengungkap filosofi kepemimpinannya yang berbeda. Dia mengaku sudah kehilangan ego sejak mengalami momen hidup dan mati dalam kariernya sebagai pemain.
“Saya harus berbicara dengan diri sendiri dalam momen antara hidup dan mati, sejak saat itu saya kehilangan ego,” ucapnya.
Pengalaman cedera kepala serius di masa lalu membentuk cara pandangnya sebagai pelatih. Dia kini lebih mengutamakan empati dan pemahaman terhadap pemain.
“Saya hanya mencoba menjadi versi terbaik dari diri saya untuk membantu para pemain,” tuturnya.
Inter tampil agresif sepanjang musim dengan torehan lebih dari 100 gol. Pendekatan menyerang ini menjadi salah satu kunci dominasi mereka di Serie A.