Lebih lanjut, Nova menekankan pentingnya laga-laga uji coba ini sebagai sarana evaluasi tim sebelum turun di ajang paling bergengsi kelompok umur. Ia menyebut, menghadapi tim-tim kuat akan membantu staf pelatih menemukan celah dan kekurangan yang masih harus diperbaiki.
“Karena mereka bisa merasakan atmosfer pertandingan dengan level internasional dan menghadapi lawan yang berada di atas kami. Hal itu akan membantu kami mengevaluasi kekurangan sebelum tampil di Piala Dunia,” sambung Nova.
Selain kualitas lawan, Piala Kemerdekaan 2025 juga terasa spesial karena digelar di luar Pulau Jawa, tepatnya di Medan, Sumatera Utara. Ini menjadi langkah konkret PSSI untuk menghapus kesan "Jawa-sentris" dalam pelaksanaan kegiatan Timnas, termasuk kelompok umur.
Nova menyambut baik keputusan ini. Baginya, bermain di luar Jawa bukan hanya tantangan logistik, tetapi juga kesempatan untuk menjangkau lebih banyak pendukung Timnas di wilayah lain. Ia berharap masyarakat Sumatera Utara, khususnya Medan, bisa memberi dukungan langsung dari tribune stadion.
“Pastinya ini menjadi berita baik karena uji coba Timnas diselenggarakan di luar Pulau Jawa. Harapannya, kami bisa mendapatkan dukungan terbaik dari masyarakat Medan selama kami berada di sana,” tambahnya.
Untuk menghadapi Piala Kemerdekaan 2025, Nova telah memanggil 30 pemain terbaik Timnas U-17. Dari daftar tersebut, tiga nama diaspora turut dipanggil: Mathew Baker, Eizar Jacob, dan Noha Pohan Simangunsong. Ketiganya diharapkan bisa memberikan nuansa permainan berbeda dan memperkuat daya saing Garuda Asia.
Turnamen ini sekaligus akan menjadi panggung awal untuk menentukan siapa saja pemain yang layak masuk skuad final ke Qatar nanti. Jika sukses tampil baik di Medan, besar peluang beberapa nama mencuri perhatian dan mengamankan satu tempat di skuad inti Piala Dunia U-17 2025.