JAKARTA, iNews.id - MilkLife Soccer Challenge Jakarta dan Solo Seri 2 2025–2026 resmi menuntaskan persaingan sengit di dua kota dengan lahirnya juara-juara baru dan rekor gol yang mencolok di kategori usia 10 dan 12 tahun.
Turnamen yang memasuki tahun ketiga ini menampilkan dominasi SDN Cilangkap 01 B dan SDN Mampang 3 di Jakarta, serta MIN 9 Sragen dan SD Kristen Manahan SKA di Solo. Ribuan siswi sekolah dasar dan madrasah ibtidaiyah turun langsung meramaikan kompetisi yang digelar pada Februari 2026.
Program Director MilkLife Soccer Challenge, Teddy Tjahjono, menegaskan komitmen jangka panjang dalam membangun fondasi sepak bola putri sejak usia dini.
“MilkLife dan Djarum Foundation memiliki komitmen jangka panjang untuk mendukung sepak bola putri Indonesia. MilkLife Soccer Challenge kini memasuki tahun ketiga dan secara kualitas terus menunjukkan perkembangan yang konsisten. Jenjang berikutnya adalah Hydroplus Soccer League. Dari hasil MilkLife Soccer Challenge maupun Hydroplus Soccer League, terlihat tren yang sangat positif,” ujar Teddy.
Menurut dia, peningkatan kualitas dan jumlah peserta terlihat signifikan pada seri Jakarta dan Solo musim 2025–2026. Atmosfer pertandingan juga diwarnai semangat, fairplay, serta interaksi positif antar pemain.
“Di seri Jakarta dan Solo terjadi peningkatan kualitas yang signifikan, begitu pula dari jumlah peserta yang terus bertambah. Ini menjadi sinyal positif bagi perkembangan sepak bola putri di Indonesia, dan kami sangat gembira melihat tren yang terus meningkat ini,” tambahnya.
Asisten Pelatih MilkLife Soccer Challenge Jakarta Seri 2 2025–2026, Rici Vauzi, menilai seleksi pemain menitikberatkan teknik dasar, insting bermain, dan mental juara. Dia melihat perbedaan mencolok antara pemain yang matang secara teknik dan yang masih belajar.
“Dalam setiap laga, perbedaan antara pemain yang menguasai permainan dan yang baru belajar menjadi sangat nyata, terlihat dari kecepatan membaca situasi, ketepatan dalam mengoper dan menggiring bola, kemampuan menahan tekanan lawan, serta mental dan keberanian mereka untuk mengambil risiko demi mendominasi permainan,” kata Rici.
Pada pembentukan tim All-Stars, dia menyebut seleksi KU-12 relatif lebih mudah karena konsistensi latihan, sedangkan KU-10 masih terbatas jumlah pemain menonjol.
“Hadirnya juara baru di Seri Jakarta membuat turnamen lebih seru, karena tim yang sebelumnya mendominasi kini tergantikan. Ini menjadi pemacu semangat bagi semua tim, bahwa siapa pun bisa meraih gelar selama menunjukkan kemampuan terbaiknya di lapangan,” tutupnya.