Pria berkacamata ini juga mengingatkan bahaya penyebaran informasi yang instan di media sosial. Ia meminta agar pernyataan soal turnamen ini tidak dipelintir hanya dalam hitungan detik.
“Jadi terkait Piala Indonesia begitu. Nanti jangan diedit dua detik. Kan senangnya diedit dua detik,” tambahnya.
Selain itu, Erick menyoroti aspek biaya dan kesehatan pemain. Ia khawatir biaya operasional klub akan melonjak serta risiko cedera pemain meningkat jika agenda pertandingan terlalu padat.
“Saya rasa biaya logistik, pemain yang cedera. Apalagi kalau saya kepentingannya, mohon maaf, tiba-tiba pemain Timnas Indonesia cedera semua. Pengganti yang tidak ada. Talent pool kita baru tipis. Ini realitanya,” tutupnya.
Dengan berbagai tantangan tersebut, Erick menegaskan bahwa proses revitalisasi Piala Indonesia mesti dilakukan secara bertahap, melibatkan koordinasi erat antara PSSI, klub, dan pemangku kepentingan lainnya.