Salah satu faktor utama yang menyebabkan Curacao kelimbungan adalah strategi yang digunakan oleh juru racik Timnas Indonesia, Shin Tae-yong. Pelatih asal Korea Selatan itu menggunakan taktik yang berbeda dalam dua pertandingan menjamu tim anggota CONCACAF tersebut.
Jika di laga pertama Timnas memakai formasi 3-4-3, Shin Tae-yong memilih mengubah jurus jitunya dengan formasi 4-2-3-1 di pertandingan kedua. Perubahan strategi tersebut cukup membuat Remko Bicentini selaku pelatih Curacao harus berpikir keras. Sebab, taktik Shin Tae-yong tersebut membuat pemain Timnas menumpuk di bagian tengah dan sulit ditembus pertahanannya.
Faktor lain yang membuat Curacao sulit membendung kekuatan Timnas adalah karena mereka telah kebobolan di menit-menit awal. Saat pertandingan baru berjalan tiga menit, gawang Curacao sudah kebobolan lewat sepakan rebound Witan Sulaeman yang berhasil dikonversikan menjadi gol oleh Dimas Drajad.
Gol di atas praktis mempengaruhi mental para pemain Curacao. Terlebih, laga tersebut digelar di markas Timnas Indonesia, yakni Stadion Pakansari.
Turun dengan taktik 4-2-3-1, membuat lini pertahanan Timnas Garuda jauh lebih rapat. Duet gelandang double pivot, yakni Ricky Kambuaya dan Rachmat Irianto sangat solid terhadap pertahanan Timnas.