Rins mencoba mengontrol emosinya saat berada di lintasan. Dia mengaku menyalurkan frustrasi dengan cara tertentu agar tetap fokus menghadapi situasi sulit.
“Saya mencoba menyalurkan amarah saya saat balapan. Itu adalah karakteristik yang telah saya latih sejak lama: ketika motor tidak berfungsi dengan baik atau saya tidak bisa mencetak waktu putaran yang bagus, saya mencoba menyalurkan semua frustrasi itu pada putaran kembali ke pit agar saya tiba dengan kondisi mental yang lebih baik,” tutur Rins.
Meski berusaha tetap profesional, pembalap asal Spanyol itu mengisyaratkan keraguan menghadapi musim baru. Performa motor yang belum kompetitif membuat dia mempertanyakan kesiapan menghadapi persaingan.
“Apakah saya siap atau tidak, saya tidak pernah tahu. Seorang pembalap tentu tidak pernah siap untuk berada di belakang grid. Itulah kenyataannya,” tukasnya.
Tes pramusim di Buriram menjadi alarm keras bagi Yamaha. Dengan hasil yang jauh dari ekspektasi dan keterbatasan teknis seperti penggunaan satu motor untuk dua pembalap, pekerjaan rumah tim pabrikan Jepang itu masih menumpuk jelang seri pembuka MotoGP 2026.