Menurut Michael, keberhasilan Piala Asia Futsal 2026 menjadi bukti konkret kesiapan Indonesia. FFI akan menggunakan data kehadiran penonton dan atmosfer pertandingan sebagai argumen kuat saat berdialog dengan FIFA.
“Nah, dengan Piala Asia sudah selesai, kami bisa berargumen, kami bisa bilang ke FIFA: "FIFA, coba lihat semua pertandingan final Copa America, kemudian UEFA Futsal, atau mungkin entah di Afrika, dan juga yang di Indonesia Arena. Yang mana yang paling ramai? Yang mana yang paling seru?" Saya yakin jawabannya sudah jelas, yaitu di Indonesia,” ujar dia.
Dia juga menyoroti perkembangan futsal di kawasan Asia dan Asia Tenggara yang dinilai sangat pesat dalam beberapa tahun terakhir.
“Kami juga akan sampaikan kepada FIFA: “FIFA, dengan segala hormat, coba lihat juga akar rumput. Bahwa futsal bukan hanya di Indonesia, tapi di Asia Tenggara, di Asia ini futsal sangat berkembang, sedang berkembang dengan pesat”,” tambah dia.
Meski optimistis, tantangan tetap besar. Edisi sebelumnya digelar di Uzbekistan, sehingga peluang berpindah ke benua lain seperti Eropa cukup terbuka. Rotasi kawasan sering menjadi pertimbangan dalam penunjukan tuan rumah.
Namun Michael tetap percaya diri. Dia menilai Presiden FIFA Gianni Infantino akan mempertimbangkan potensi pasar dan perkembangan futsal Asia, terutama dukungan suporter Indonesia yang luar biasa selama Piala Asia 2026.
“Kalau Eropa futsal sudah maju ya wajar gitu, memang mereka lebih dulu. Tapi kalau kita bicara potensi pengembangan futsal di dunia, saya punya keyakinan bahwa Asia, khususnya di Asia Tenggara, itu adalah tempat di mana perkembangan itu paling pesat. Kalau FIFA bisa melihat hal ini, saya yakin Presiden FIFA pun akan tergerak supaya membawa Piala Dunia Futsal ke Indonesia,” pungkas pria berusia 34 tahun tersebut.
Keputusan resmi FIFA memang belum diumumkan. Namun dengan keberhasilan penyelenggaraan, prestasi tim nasional, serta dukungan publik yang masif, Indonesia kini berdiri sebagai kandidat serius tuan rumah Piala Dunia Futsal 2028.