Clear kemudian memaparkan perbedaan paling mencolok saat bekerja dengan Schumacher dan Hamilton, seperti tertuang dalam buku Simon Lazenby berjudul Pressure yang terbit pada 2025. Menurut dia, Schumacher sangat aktif membentuk struktur tim sesuai keinginannya.
“Michael memastikan kepala tim, direktur teknis, dan semua orang di sekitarnya adalah orang-orang yang dia inginkan. Lewis mengambil pendekatan sebaliknya,” jelas Clear.
“Dia lebih selektif, dia meninjau situasi, lalu jika merasa hanya bisa mengendalikan ini, ini, dan ini, dia memilih melakukan hal-hal tersebut dengan sempurna,” sambungnya.
Clear juga menyoroti perbedaan sisi emosional keduanya. “Saya pikir Michael lebih rendah hati saat tiba di Mercedes dan memberi perhatian besar pada sisi emosional tim, sedangkan Lewis fokus bersikap klinis,” ujarnya.
“Orang mungkin mengira sebaliknya. Michael menggunakan emosinya untuk memengaruhi tim dari dalam kokpit. Lewis hanya fokus mengemudi dan mengelolanya dari dalam dirinya,” tutup Clear.
Dengan pendekatan yang kontras ini, musim 2026 menjadi ujian besar bagi Hamilton di Ferrari. Apakah gaya klinisnya mampu membawa Scuderia kembali ke puncak, atau tekanan justru kian membesar, akan terjawab di lintasan.