Meski bangga dengan mental bertanding pemain, Hector tidak menutup mata terhadap sejumlah kekurangan yang muncul sepanjang laga. Dia menilai evaluasi menyeluruh tetap wajib dilakukan demi peningkatan kualitas tim.
“Kami terlambat melakukan pressing, kesulitan menjaga pergerakan lawan, terburu-buru saat menyerang, dan tidak ada progres permainan yang nyata,” ujarnya.
Dia juga menyoroti situasi bola mati yang belum berjalan maksimal. “Dan dalam skema set piece atau bola mati, kita tidak efektif,” tambah Hector.
Kekalahan dari Spanyol U-17 ini menjadi bagian penting dari proses pembelajaran pemain muda Indonesia. Turnamen VI Nations U-17 masuk dalam peta jalan pembinaan usia dini yang telah dirancang federasi.
Bertanding melawan negara dengan tradisi futsal kuat memberi pengalaman bertanding tingkat tinggi yang sulit didapat di level domestik. Jam terbang ini diharapkan membentuk karakter, mental, serta pemahaman taktik pemain sejak usia muda.
Hector Souto menilai hasil akhir bukan tujuan utama dari keikutsertaan di turnamen internasional ini. Dia lebih menekankan pentingnya proses, keberanian menghadapi lawan tangguh, serta kemampuan tim menyerap pelajaran dari setiap pertandingan.
Dengan serangkaian evaluasi dan pembenahan, Timnas Futsal Indonesia U-17 diharapkan mampu menunjukkan progres signifikan pada agenda internasional berikutnya, sekaligus menyiapkan fondasi kuat bagi masa depan futsal nasional.