Hary melihat fenomena persaingan tarif yang semakin ketat mulai muncul di berbagai daerah. Banyak pengusaha rumah biliar berlomba-lomba menurunkan harga demi menarik pelanggan.
Menurut Hary Tanoesoedibjo, perang tarif berpotensi menimbulkan dampak negatif terhadap kualitas pelayanan. Ketika harga terus ditekan, pengelola rumah biliar berisiko mengurangi kualitas fasilitas maupun layanan demi menekan biaya operasional.
"Supaya kita mampu memberikan standarisasi, kalau regulasinya harus begini, begini, begini. Soalnya kalau tidak, sekarang ini banting-bantingan tarif. Dan kalau sudah banting tarif, ya service quality-nya akan turun," ujarnya.
Hary Tanoesoedibjo mengaku telah menerima banyak keluhan dari para pemilik rumah biliar. Sejumlah pengusaha menyampaikan aktivitas usaha mereka mulai melambat setelah sebelumnya menikmati pertumbuhan yang sangat pesat.
Padahal dalam beberapa tahun terakhir, olahraga biliar mengalami lonjakan popularitas yang signifikan di Indonesia. Kehadiran banyak rumah biliar baru menjadi salah satu indikator meningkatnya minat masyarakat terhadap olahraga tersebut.
Kondisi itu membuat Hary Tanoesoedibjo khawatir momentum positif yang telah dibangun selama ini bisa terganggu jika tidak ada langkah konkret untuk menjaga kualitas industri. Dia berharap regulasi yang melibatkan rekomendasi PB POBSI dapat menjadi solusi agar perkembangan biliar nasional tetap berada di jalur yang sehat.
"Akhirnya saya dapat komplain dari banyak rumah biliar, sekarang mulai landai. Padahal waktu itu berkembangnya sangat luar biasa dan sangat positif. Saya khawatir kalau ini berjalan terlalu lama, nanti biliar bisa kurang seperti yang sudah kita lakukan selama ini," pungkasnya.