Hendra mengakui pola kepelatihannya dikenal keras dan sudah diterapkan selama sekitar 15 tahun. Dia menyebut gaya tersebut menjadi karakter melatihnya sejak awal menangani atlet panjat tebing nasional.
“Saya sudah 15 tahun melatih. Kalau pola latihannya keras, itu memang gaya dan karakteristik melatih saya,” ucap dia.
Dia juga mengakui pernah melakukan tindakan fisik dalam konteks latihan saat atlet dinilai tidak menunjukkan performa maksimal. Menurut dia, tindakan tersebut dilakukan dalam situasi tertentu di arena latihan.
“Kalau tidak perform, ada momen tertentu misalnya saya tempeleng pakai sepatu atau apa. Kalau itu disebut kekerasan, saya siap menerima konsekuensinya,” ujar dia.
Terkait tuduhan pelecehan seksual, Hendra mengaku tidak memahami tindakan yang dimaksud. Dia menyebut pernah memeluk dan mencium kening atlet putri saat kondisi mental atlet sedang terpuruk sebagai bentuk dukungan.
“Apakah memeluk dan mencium kening itu termasuk pelecehan seksual? Saya tidak tahu. Pola pendekatan kepelatihan saya memang seperti itu,” terang dia.