“Harusnya kemaren itu (Senin) mereka sudah terbang pulang ke Indonesia. Tapi pada saat mau pulang, kemudian di PCR, dari 16 itu empat di antaranya terkena Covid-19. Semua akhirnya dikarantina, karena aturan di Swiss menyebutkan walaupun tidak terkena covid tapi karena berinteraksi ya harus dikarantina,” ujarnya.
Gatot berharap kejadian serupa tak terjadi. Dia meminta semua orang untuk tetap waspada dari pandemi karena atlet yang terlihat sehat dan sering berolahraga saja bisa terinfeksi virus Covid-19 tersebut.
“Ini menjadi pelajaran bagi siapa pun (terutama atlet yang hendak bertanding). Untungnya sudah selesai event-nya, acaranya dari tanggal 1-3 Juli kan, kalau belum mulai event kan repot. Ini tentu menjadi pelajaran bagi kita,” kata Gatot.
“Ini menjadi pelajaran juga bagi kita, meskipun atlet itu (identik) selalu sehat, mereka selalu beraktifitas, berolahraga, tetapi potensi terkena covid tetap terbuka. Makanya harus berhati-hati siapa pun yang beraktifitas baik di dalam maupun di luar negeri,” ujarnya.
Terlepas dari kabar buruk itu, para atlet panjat tebing Indonesia nyatanya tampil luar biasa di Kejuaraan Dunia Panjat Tebing di Swiss tersebut. Veddriq Leonardo sukses membawa pulang medali emas dari kompetisi tersebut usai mengalahkan atlet Rusia, Dmitrii Timofeev, di final dengan catatan waktu 5,329 detik.