Dari warga yang masih menolak ada beberapa alasan. Mulai meminta penambahan harga tanah ataupun menolak pindah karena tidak mau direpotkan urusan seperti pengurusan ganti rugi dan proses pembebasannya. Ada sekitar 17 KK yang belum diketahui.
Humas PWPP-KP, Agus Widodo mengatakan warga sudah merasa nyaman dan memiliki keterikatan historis dengan tempat tinggalnya saat ini. Hal inilah yang menjadi alasan utama warga menolak tanpa syarat pembangunan bandara. Warga tetap ingin hidup di lingkungannya sekarang dan bercocok tanam di ladang, sawah, serta pekarangan yang dimilikinya. “Kita mau saja ditemui, tetapi sikap kita tetap menolak tempat tinggal dan lahan digusur untuk bandara,” katanya.
Pada Desember 2017 lalu, perwakilan Pemkab Kulonprogo dan PT Angkasa Pura I sudah menemui warga. Namun rombongan diusir karena hanya membicarakan arti penting bandara. “Pembangunan bandara sudah mengusik kehidupan kami. Kami tidak pernah ada niat,” katanya.
Agus memastikan penolakan warga tidak ada yang dilatarbelakangi masalah tawar menawar harga. Warga menolak karena memang sudah nyaman dan tidak mau kehidupannya terganggu.
Selama dua hari ini warga penolak bandara dibantu relawan memperbaiki kembali akses jalan yang ditutup PT Angkasa Pura I. Warga juga menanam tanaman produktif seperti pohon pisang di lahan mereka.