Pemerintah Naikkan Harga BBM Non-Subsidi, Ini Kata Pakar UGM dan Unima

Tim iNews
Pemerintah menyesuaikan harga BBM non subsidi akibat melonjaknya hatga minyak dunia. (Foto: Ilustrasi/Freepik)

JAKARTA, iNews.id – Keputusan pemerintah melakukan penyesuaian harga sejumlah bahan bakar minyak (BBM) non-subsidi per 18 April 2026 dinilai sebagai langkah yang wajar dan tepat. Para akademisi menilai kebijakan ini tidak akan memberikan tekanan signifikan terhadap kondisi ekonomi masyarakat luas.

Pengamat ekonomi energi Universitas Gadjah Mada (UGM), Fahmy Radhi, menyebut kenaikan ini merupakan koreksi atas kebijakan sebelumnya yang sempat tidak mengikuti mekanisme pasar di tengah lonjakan harga minyak mentah dunia.

Fahmy menjelaskan, harga BBM non-subsidi, terutama RON 92 ke atas, seharusnya memang mengikuti fluktuasi harga minyak global. 

Indonesia tercatat lebih lambat melakukan penyesuaian dibandingkan negara-negara seperti Singapura, Malaysia, hingga Eropa yang sudah menaikkan harga sejak Maret 2026.

“Saya kira sudah tepat. Ini menjadi koreksi dari kebijakan sebelumnya. Selama ini harga BBM non-subsidi memang ditentukan oleh mekanisme pasar. Ketika harga minyak dunia naik, maka harga BBM non-subsidi semestinya ikut naik,” ujar Fahmy, Sabtu (18/4/2026).

Kenaikan harga pada jenis Pertamax Turbo, Dexlite, dan Pertamina Dex diprediksi tidak akan memicu inflasi besar. Hal ini dikarenakan karakteristik konsumennya yang berasal dari kalangan menengah ke atas dan tidak digunakannya jenis BBM tersebut untuk sektor vital seperti distribusi logistik kebutuhan pokok.

“Pengaruhnya tidak signifikan karena konsumennya tidak sebesar pengguna Pertalite dan Solar. Selain itu, BBM non-subsidi tidak digunakan untuk angkutan kebutuhan pokok,” papar Fahmy.

Senada dengan hal tersebut, pengamat ekonomi Universitas Negeri Manado (Unima), Robert Winerungan, menambahkan bahwa langkah pemerintah menahan harga BBM subsidi (Pertalite dan Solar) serta Pertamax (RON 92) adalah kunci menjaga daya beli.

“BBM non-subsidi dikonsumsi masyarakat kelas atas yang tidak banyak berkontribusi terhadap inflasi. Kebijakan ini menjaga bantalan ekonomi bagi kelompok menengah ke bawah,” kata Robert.

Editor : Kastolani Marzuki
Artikel Terkait
57 tahun lalu

Bahlil Beri Sinyal Kenaikan Harga BBM Nonsubsidi, Kapan?

57 tahun lalu

Polisi Bongkar Gudang Solar Subsidi di Solok, Diduga untuk Tambang Ilegal

57 tahun lalu

Mobil Angkut BBM Terbakar Depan SPBU Toraja Utara, Jalur Trans Sulawesi Lumpuh

57 tahun lalu

Polairud Polda Babel Bongkar Mafia Solar Subsidi di Belitung, Libatkan Operator SPBU

57 tahun lalu

Antrean BBM Mengular di Palangka Raya, Warga Rela Tunggu Berjam-jam

Berita Terkini
Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik Lebih Lanjut
Network Updates
News updates from 99+ regions
Personalize Your News
Get your customized local news
Login to enjoy more features and let the fun begin.
Kanal