Binsar mengatakan, upaya pelestarian kain tradisional terus dilakukan di beberapa daerah. Salah satunya peringatan Hari Batik di Solo yang dihadiri Presiden Jokowi.
Untuk melestarikan tekstil tradisional ini, kementerian mendorong adanya kerja sama antarkomunitas tekstil antarnegara maupun dengan perajin dan stakeholder yang terlibat.
Kemendikbud, kata Binsar, setiap dua tahun sekali mengajukan warisan budaya ke Unesco untuk ditetapkan sebagai warisan budaya dunia. Mereka terus menjaring warisan budaya yang ada di Indonesia dengan membentuk tim. “Mana yang cocok dan urgen kemudian diajukan ke Unesco untuk dilakukan penilaian,” ucapnya.
Binsar mengaku sangat mendukung simposium tersebut karena menjadi salah satu upaya melaksanakan Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan.
Di mana dalam tekstil tradisional ini ada 39 warisan budaya yang telah ditetapkan sebagai warisan budaya. Baik Ulos, Tenun ataupun batik. Bahkan Batik telah ditetapkan sabagai salah satu warisan budaya dunia. “Ini adalah bagian dari budaya bangsa yang harus dilindungi,” ucapnya.
Wakil Ketua 7th ATTS, GKR Hemas mengatakan, perkembangan industri kain tradisional di Indonesia terus berkembang. Dari material bahan yang digunakan maupun teknik pewarnaan.
“Dulu batik hanya menggunakan primissima atau mori. Namun saat ini semakin maju dan sudah menggunakan kain sutera,” katanya.