Menilik Tobong Gamping, Bangunan yang Tuai Kontroversi karena Dijadikan Ikon Gunungkidul 

erfan erlin
Dua orang pekerja tengah menjaga bara api pembakaran Tobong gamping di Dusun Kajar II (Foto: MPI/Erfan Erlin).

GUNUNGKIDUL, iNews.id - Pemerintah Kabupaten Gunungkidul akan mengganti Monumen Patung Pengendang di Bundaran Siyono, Kalurahan Logandeng, Kapanewon Playen dengan Monumen Tobong Gamping. Wacana ini banyak menuai kontroversi di tengah masyarakat, dari seniman hingga anggoa DPRD.  

Warga menolak ikon tersebut karena dianggap sebagai salah satu biang kerusakan lingkungan yang terjadi di Gunungkidul. Aktivitas tobong gamping telah menjadikan penambangan Batu Kapur terjadi di berbagai titik. Oleh karenanya, mereka menolak rencana tersebut. 

Aktivitas tobong gamping pernah mewarnai perjalanan masyarakat Gunungkidul bahkan menjadi penopang perekonomian wilayah ini. Tobong gamping pernah berjaya di tahun 80-an hingga 90-an. Salah satunya di kawasan Kalurahan Karangtengah Kapanewon Wonosari.

Pada era tersebut puluhan tobong gamping sempat beroperasi. Saat itu, permintaan gamping cukup tinggi karena dipakai sebagai bahan campuran semen untuk bahan bangunan. Puluhan tobong gamping bermunculan. Namun kini, di wilayah tersebut tinggal satu saja.  

Salah satunya adalah milik Wardoyo (62) yang berada di Pedukuhan Kajar II, Kalurahan Gari, Wonosari. Dia adalah satu dari dua pengusaha tobong gamping yang masih bertahan di Gunungkidul. Karena yang lain sudah banyak yang gulung tikar.

Dulu dia memiliki beberapa tobonga namun tinggal tiga yang masih berfungsi. Dua tobong yang menggunakan bahan bakar kayu bakar dan satu lagi berukuran besar menggunakan serbuk gergaji kayu. Sisanya kini kebanyakan kondisinya sudah rusak tak berbentuk dan telah menjadi semacam monumen.

Salah satu pekerja, Satimin (62) mengaku sudah bekerja di tobong tersebut sejak awal tahun 1980-an. Namun dia sempat berhenti bekerja dan beralih profesi menjadi sopir truk. Ia kembali bekerja di Tobong Gamping sejak 1990-an karena situasi transportasi terus menurun.

“Dulu warga Gari bekerja di tobong gamping. Ada kalau 50 tobong di sini,” katanya.

Editor : Kuntadi Kuntadi
Artikel Terkait
57 tahun lalu

Update Gempa M 5,6 Guncang Sinabang Simeuleu Aceh, BMKG: Tidak Berpotensi Tsunami

57 tahun lalu

Hujan Deras Picu Longsor Bukit Clongop, Jalur Penghubung Jateng–DIY Ditutup

57 tahun lalu

Hati-Hati Modus Kejahatan, Penipuan Jual Beli Online Emas Antam Diungkap Polres Gunungkidul

57 tahun lalu

Update Gempa M 6,2 Guncang Bolaanguki Sulut, Getaran Terasa di Gorontalo hingga Ternate

57 tahun lalu

3 Jalur Alternatif ke Gunungkidul Ini Jadi Favorit Wisatawan Lokal, Cocok untuk Weekend Trip

Berita Terkini
Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik Lebih Lanjut
Network Updates
News updates from 99+ regions
Personalize Your News
Get your customized local news
Login to enjoy more features and let the fun begin.
Kanal