Sementara itu, Igning melatih anak-anak Tentara Pelajar (TP) dan Tentara Feni Pelajar (TGP). Dia didampingi Kapten PHB-ALRI, Deddy Muhardi Kartodirjo.
Igning tinggal di sebuah rumah yang sepi berhalaman luas, di Jalan Jetis, Yogyakarta. Suatu saat, Igning tampak tidak sebagaimana biasa. Wajahnya sering murung. Beberapa ucapannya menunjukkan kecurigaan. Dia kerap bertanya, misalnya, mengapa Muharto tidak memberi kabar?
Igning juga curiga, apa mungkin radionya sengaja dirusak sehingga tidak dapat berhubungan dengan Manila. Dugaan lain, kalau pesawat Muharto jatuh di Kalimantan, berarti dia tidak dapat pulang ke Manila. Igning mengira masuk perángkap komunis.
"Lebih baik saya bunuh diri", kata Igning saat itu.
Suatu malam, Muhardi mendapat panggilan dari George Reuneker, kapten AURI yang juga sering menemani Igning. Dia mendapat pesan untuk menghibur Igning yang disebut depresi dan kondisinya sudah gawat.
"Tolong hibur Igning. Lagi-lagi ia kesepian dan depresi gawat. Saya berhalangan," kata Reuneker kepada Muhardi.