Pendanaan perang pada awalnya mengandalkan sumber-sumber tradisional. Para pangeran dan priyayi Yogyakarta menyumbang emas, permata, uang, dan barang berharga lainnya.
Semua sumbangan ini dibawa ke medan perang oleh istri-istri dan putri-putri mereka. Suatu sistem yang sangat menyentuh yang terulang kembali pada masa revolusi Indonesia.
Konon iring-iringan Belanda yang membawa logistik juga diserang oleh warga. Hasil rampasan ini digunakan untuk membiayai pertempuran melawan Belanda.
Banyak pengikut Pangeran Diponegoro telah siap berperang dan melengkapi diri dengan senjata-senjata tradisional seperti, ketapel, gada, juga tombak yang terbuat dari bambu yang diruncingkan, alias bambu runcing.
Mereka berdatangan ke Selarong mulai akhir Juli hingga awal Agustus untuk menerima perintah dari pangeran. Setelah itu mereka langsung pergi menempati pos-pos yang telah ditentukan.
Gaya berperang Pangeran Diponegoro memanfaatkan semaksimal mungkin kekuatan lokal pedesaan. Banyak warga desa dikerahkan untuk melakukan pencegahan bala bantuan Belanda.