Kisah Pangeran Diponegoro Dapat Sumbangan Emas hingga Permata untuk Biaya Perang

Avirista Midaada
Lukisan Pangeran Diponegoro. (Ist)

Pendanaan perang pada awalnya mengandalkan sumber-sumber tradisional. Para pangeran dan priyayi Yogyakarta menyumbang emas, permata, uang, dan barang berharga lainnya.

Semua sumbangan ini dibawa ke medan perang oleh istri-istri dan putri-putri mereka. Suatu sistem yang sangat menyentuh yang terulang kembali pada masa revolusi Indonesia. 

Konon iring-iringan Belanda yang membawa logistik juga diserang oleh warga. Hasil rampasan ini digunakan untuk membiayai pertempuran melawan Belanda.

Banyak pengikut Pangeran Diponegoro telah siap berperang dan melengkapi diri dengan senjata-senjata tradisional seperti, ketapel, gada, juga tombak yang terbuat dari bambu yang diruncingkan, alias bambu runcing. 

Mereka berdatangan ke Selarong mulai akhir Juli hingga awal Agustus untuk menerima perintah dari pangeran. Setelah itu mereka langsung pergi menempati pos-pos yang telah ditentukan. 

Gaya berperang Pangeran Diponegoro memanfaatkan semaksimal mungkin kekuatan lokal pedesaan. Banyak warga desa dikerahkan untuk melakukan pencegahan bala bantuan Belanda.

Editor : Reza Yunanto
Artikel Terkait
57 tahun lalu

Mengerikan! Pemimpin Prajurit Belanda Tertembak Mata oleh Pasukan Pangeran Diponegoro

57 tahun lalu

Belanda Bangun 258 Benteng Lawan Pangeran Diponegoro, Semua Gagal Total!

57 tahun lalu

Kisah Pemberontakan Gagal Pangeran Diposono, Kerabat Keraton Nekat Lawan Belanda

57 tahun lalu

Kisah Pangeran Diponegoro Lolos dari Kepungan Ribuan Pasukan Belanda di Perang Jawa

57 tahun lalu

Mengenal Pusaka Sakti Pangeran Diponegoro, Keris Ki Ageng Bondoyudo dan Panah Sarutomo

Berita Terkini
Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik Lebih Lanjut
Network Updates
News updates from 99+ regions
Personalize Your News
Get your customized local news
Login to enjoy more features and let the fun begin.
Kanal