"Awal Oktober orang Pertamina ke sini dan memfasilitasi pembuatan briket karena tahu di sini ada bank sampah. Tapi mereka ingin agar kulit koro di Babakan bisa diolah di bank sampah kami," ujarnya.
Akhirnya dari Pertamina memberikan bantuan mesin pengolah briket senilai Rp50 juta. Warga juga dilatih memproduksi briket.
“Keunggulan briket kami nyalanya lebih lama dari arang,” katanya.
Produk briket ini belum dijual secara massal. Saat ini baru dibeli warga yang berprofesi sebagai pedagang soto dengan harga Rp6.000-8.000 per kilogram. Harga ini lebih mahal dibanding arang kayu yang hanya Rp5.000-Rp6.000 per kilogramnya.
"Rencana ke depan kami mau pakai bahan baku dari kulit koro, biar berbeda dengan briket-briket lainnya," katanya.