Dalam siraman tersebut, kata dia, kedua mempelai juga mengenakan kain batik motif grompol dengan harapan keduanya akan selalu bersatu dengan rukun dan damai. “Tradisi siraman dengan air kembang satu sumber dari Puro Pakulaman ini juga sebagai simbol menyucikan diri sebelum keduanya melangsungkan akad nikah,” kata Mas Ngabei.
Sehari sebelumnya, calon menantu Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya (KGPAA) Paku Alam X, Maya Lakshita Noorya menjalani nyantri atau mempelajari adat istiadat di lingkungan Istana Puro Pakualaman sebelum melangsungkan akad nikah bersama BPH Kusumo Bimantoro pada, Sabtu, 5 Januari 2019.
Tim Pranata Lampah-lampah Dhaup Ageng, Mas Ngabei Citro Panambang di Kompleks Puro Pakualaman mengatakan, Maya Laksita yang berasal dari luar keluarga besar Paku Alaman diharuskan menjalani nyantri selama prosesi nyangker atau pingitan di Kepatihan Puro Pakualaman yang telah dimulai sejak Kamis (3/1/2019) pagi.
"Dengan nyantri, dia (calon mempelai wanita) bisa beradaptasi dengan lingkungan Pakualaman. Belajar bagaimana kehidupan di Istana Pakualaman," kata Citro Panambang.
Pangeran Haryo merupakan putra sulung dari Pakualam X yang juga menjabat Wakil Gubernur DIY. Jenjang pendidikan ditempuhnya di Departemen Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada (UGM). Sedangkan perempuan yang akan dipersunting yakni Maya Lakhsita Noorya lahir di Sleman pada 27 April 1991. Putri dari Mandiyo Priyo dan Rini Wijayanti ini merampungkan pendidikan tingginya di Pendidikan Dokter Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY).