Pengurus gereja juga mendata jatidiri jemaat meliputi nama, alamat dan hasil pengecekan suhu. Jemaat diperbolehkan masuk ke dalam ruangan gereja bila suhu tubuh di bawah 37,5 derajat celsius. Di atas itu, jemaat tetap diizinkan mengikuti peribadatan, tapi di tempat khusus di luar gedung yang telah disiapkan pengurus.
Tempat duduk jemaat baik yang ada di dalam maupun luar ruangan gereja juga diatur. Pengurus gereja telah menempelkan tanda di mana jemaat boleh duduk dan tidak. Hal ini dilakukan guna menghindari jarak yang terlalu dekat antar sesama jemaat.
Untuk mengantisipasi adanya virus, pengurus gereja menyemprotkan cairan disinfektan di setiap sudut gereja termasuk tempat duduk jemaat sekitar satu jam sebelum kegiatan dimulai.
"Penyemprotan juga dilakukan setelah peribadatan selesai" ucap Pendeta GKJ Temon, Kristian Prawoko.
Prosesi peribadatan di GKJ Temon kali ini juga lebih cepat dibanding sebelum adanya pandemi. Sebelumnya prosesi ritus bisa berlangsung hingga satu jam.
"Pembukaan kembali ini berdasarkan hasil rekomendasi Tim Gugus Tugas Penanggulangan Covid-19 Kapanewon Temon, yang mana, protokol kesehatan sudah kami terapkan sehingga peribadatan di gereja boleh digelar," ujarnya.
Artikel ini telah tayang di Harianjogja.com dengan judul "Gereja di Kulonprogo Mulai Gelar Peribadatan Tatap Muka"