Selain itu perlu ada konvergensi, koordinasi dan konsolidasi program, baik dari pusat, daerah hingga ke desa. Tidak kalah penting pemberian gizi dan ketahanan pangan, serta pemantauan dan evaluasi.
“Kami juga akan gandeng UGM untuk mendampingi program yang telah dipersiapkan,” ucapnya.
Tim Gizi Kesehatan Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat dan Keperawatan UGM Toto Sudargo mengatakan, Kulonprogo termasuk wilayah yang sudah melaksanakan tahapan penanganan stunting. Ini bisa dilihat dengan sudah diterbitkannya aturan Perbup tentang stunting pada 2018.
“Komitmen Pejabat di Kulonprogo lebih cepat dan perbup yang ada akan direvisi disesuaikan dengan kebutuhan,” kata Toto.
Menurutnya, salah satu langkah yang harus dilakukan yakni dengan memaksimalkan keberadaan pokja. Pokja ini sangat diperlukan untuk mendukung program-progam yang telah disiapkan.
Kegiatan pendampingan pembentukan pokja rencananya akan ditempatkan di wilayah lokus stunting. Yakni Desa Karangsari dan Sendangsari di Kecamatan Pengasih, kemudia Donomulyo di Kecamatan Nanggulan, Nomporejo di Kecamatan Galur, Tuksono di Kecamatan Sentolo. Selain itu juga Desa Kebonharjo, Pagerharjo, Sidoharjo, Gerbosari dan Ngargosari di Kecamatan Samigaluh.
Nantinya, akan ada pendamping di setiap puskesmas. Pendampingan ini penting dalam mengoptimalkan program intervensi dan kegiatan terkait stunting di desa lokus, serta membantu posyandu sasaran. (kuntadi)