Sementara mereka yang tidak satu value hanya menjadikan konflik sebagai sarana pelampiasan emosi yang berujung pada makian, ancaman, menyakiti pasangan hingga KDRT yang menyeramkan.
2. Tanyakan Ini
Jose meminta perempuan untuk menanyakan kebiasaan buruk calon pasangan sebelum menikah, terutama kebiasaan buruknya ketika sedang marah. Hal itu sangat penting untuk mendeteksi potensi KDRT.
Misalnya saja, tanyakan, "Mas, kamu kalau lagi marah biasanya ngapain?"
"Kebiasaan buruk apa yang biasanya kamu lakukan kalau lagi marah?"
"Biasanya kamu kalau marah ada alasannya atau nggak? Atau kamu gampang marah meskipun karena hal kecil?"
"Kamu bisa tega menyakiti orang yang kamu cintai nggak sih kalau lagi marah besar?"
"Kalau lagi marah biasanya kamu suka keluar kata-kata kasar nggak?"
3. Pekalah
Disadari atau tidak, banyak perempuan yang mengalami KDRT dalam pernikahan sebenarnya sudah bisa melihat potensi KDRT sebelum pernikahan terjadi. Celakanya, mereka lebih mengutamakan rasa sayang dibandingkan keselamatan.
Padahal, rasa sayang, suka dan kagum saja tidak pernah cukup untuk menjalani kehidupan pernikahan. Untuk itu, jika calon pasangan sudah berani berkata-kata kasar, memaki, merendahkan dan melakukan kekerasan verbal lainnya sebelum kalian menikah, perempuan mengatakan tidak untuknya. Tidak peduli sebesar apa pun rasa sayangmu.
Banyak perempuan menganggap sepele hal ini dengan harapan setelah menikah, kebiasaan buruk ini akan berubah. Padahal, kekerasan verbal yang ditoleransi terus-menerus menjadi bibit menuju kekerasan berikutnya.