Dia mengakui salah satu pekerjaan rumah (PR) mereka saat ini adalah regenerasi pembatik. Di mana pembatik di DIY sekarang sudah sepuh-sepuh (tua). Sehingga PR terbesar adalah bagaimana menciptakan generasi pembatik.
Di samping itu, PR lain adalah terkait dengan industri batik. Bagaimana menjadikan batik sebagai industri sedangkan di sisi lain batik dibuat dengan tangan. Sehingga menjadikan batik sebagai industri adalah sebuah tantangan.
Ketua Panitia JIBB 2023, Gatot Saptadi mengatakan, JIBB adalah event 2 tahunan. Hal tersebut merupakan tindak lanjut dari dicanangkannya atau dikukuhkannya Jogja sebagai Kota Batik Dunia 2014 yang lalu. Dan kegiatan ini merupakan afiliasi dari UNESCO sehingga Jogja diakui sebagai Kota Batik dunia. "Namun ada ada syaratnya ya syaratnya bahwa 2 tahun sekali ini akan dievaluasi,"ujarnya.
Kali ini JIBB juga bakal menampilkan batik tentang kehidupan. Di mana batik mengisahkan perjalanan manusia dari di kandungan hingga kematian nanti. "Kemudian juga ada batik. kita akan menampilkan mungkin sekitar 150-an batik. Kami juga akan undang menteri," kata dia.
Gatot berharap melalui aktivitas JIBB pihaknya akan menunjukkan kepada dunia bahwa Jogja memang kota batik dunia. Dan ini harus dijabarkan dalam 7 kriteria di antaranya aspek sejarah batik, kemudian juga orisinil, pelestarian kemudian mempunyai nilai ekonomi, ramah lingkungan, nilai global dan terakhir berkelanjutan.