Sementara itu, fungsi ukiran arca singa tersebut berfungsi untuk mengaliri air hujan yang keluar melalui mulut arca. Bangunan Candi Ngawen ditemukan kembali pada 1920 oleh peneliti asal Belanda, Van Erp.
Pada abad ke-8 Masehi, Rakai Panangkaran serta Rakai Pikatan memerintahkan pembangunan Candi Sewu. Walaupun raja pada masa itu beragama Hindu, candi tersebut tetap dibangun sebagai candi Buddha karena pengaruh dari Wangsa Syailendra.
Meskipun namanya Sewu atau seribu, candi ini hanya terdiri dari 249 candi, 1 candi utama, 8 candi pengapit, dan 240 candi perwara. Sementara itu, terdapat empat pintu gerbang menuju pelataran luar Candi Sewu.
Saat ini, Candi Sewu bisa dilihat di Dukuh Bener, Desa Bugisan, Kecamatan Prambanan, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah.
Candi Sambisari merupakan candi Hindu beraliran Siwa. Setelah diteliti, candi tersebut dibangun pada abad ke-9 Masehi oleh Rakai Garung, Raja Mataram Hindu dari Wangsa Syailendra.
Berabad-abad berlalu, candi ini ditemukan secara tidak sengaja oleh petani yang sedang mencangkul di sawah yang berlokasi di Dusun Sambisari, Desa Purwomartani, Kecamatan Kalasan, Kabupaten Sleman, Yogyakarta. Saat ditemukan, kompleks candi dikelilingi dua lapis pagar dan tiga candi perwara yang berhadapan dengan candi utama hanya tersisa batu atau semacam fondasi.