"Kalau pun nanti ada pembukaan aktivitas di masyarakat, maka akan dilakukan bertahap. Karena jika muncul masalah maka bisa langsung dilokalisir, tidak meluas kemana-mana," katanya.
Setelah penanganan kasus, penyusunan protokol, dan uji coba penerapan protokol, tahapan berikutnya adalah menjalankan gerakan "Jogja untuk Jogja". Ini untuk mendorong pertumbuhan ekonomi berdasarkan prinsip saling menghidupi antar sesama warga Kota Yogyakarta.
"Misalnya membeli produk lokal dari Yogyakarta. Tujuannya, supaya kehidupan ekonomi berkembang. Namun protokol baru yang sudah ditetapkan juga harus dilanjutkan," katanya.
Tahapan pemulihan berikutnya yakni menjalankan "Jogja untuk Semua", memulihkan berbagai aktivitas di Yogyakarta secara lebih luas namun dengan tetap menjalankan protokol kesehatan. Mengenai pendanaan, Heroe mengatakan, pemerintah kota masih terus memutar otak untuk membiayai pewujudan berbagai rencana pemulihan tersebut, khususnya di bidang ekonomi, karena pendapatan asli daerah Kota Yogyakarta juga menurun cukup banyak.
"Dari hitungan kami, potensi pendapatan hilang sekitar Rp300 miliar sampai Juni. Kalau kondisi seperti ini berlangsung lebih lama misalnya sampai Juli, Agustus, atau September maka ada potensi pendapatan yang hilang sekitar Rp100 miliar lagi," katanya.