“Awalnya saya sudah ragu untuk ikut. Tapi karena terus dibujuk owner, saya akhirnya ikut juga. Ketika saya macet melakukan pembayaran, owner bawa oknum polisi ke rumah saya. Saya dibawa ke kantor polisi dan dipaksa menandatangani surat pernyataan penitipan uang,” ujar Ayin.
Menurut Ayin, dia ditawari ikut arisan oleh salah seorang owner arisan online di Medan yang anggotanya hanya dua orang.
“Kami para member tidak saling kenal. Admin yang masukkan kami ke media sosial grup WA. Owner tawarkan Rp1 juta per lima hari (per kloter). Owner bilang kalau sudah menarik uang arisan, hanya bayar biaya administrasi sebesar Rp80.000,” kata Ayin.
Setelah arisan berjalan lancar, Ayin kembali ditawari owner untuk main banyak kloter dengan member berbeda-beda orang. Permainan arisan online ini ada yang Rp1 juta hingga Rp3 juta per lima hari, Rp5 juta hingga Rp6 juta per tujuh hari. Biaya administrasi dibebankan kepada member yang menarik sebesar Rp80.000 hingga Rp150.000.
Masalah mulai muncul ketikan Ayin berniat berhenti ikut arisan online dan ingin membayar uang arisan yang dipakainya. Owner meminta modal arisannya dikembalikan berikut bunganya dengan jumlah fantastis dan itu membuat Ayin enggan membayar.