Menurut A Marpaung, buaya tersebut sudah lama berada di Sungai Simangalam. Bahkan, peristiwa serupa hampir setiap tahun terjadi di desa mereka. “Saya berharap pemerintah berwenang bisa segera mengambil tindakan agar tidak lagi terjadi peristiwa seperti ini,” ujarnya.
Sementara Kepala Balai Besar Konservasi dan Sumber Daya Alam (BBKSDA) Sumut, Hotmauli Sianturi mengaku belum mengetahui peristiwa tersebut. BBKSDA segera mengecek ke lokasi kejadian. “Baru tahu saya. Nanti kami akan lakukan pengecekan ke sana kalau memang benar itu buaya atau tidak,” kata Hotmauli.
Dia mengatakan, jika memang Sungai Simangalam merupakan habitat dari buaya, maka masyarakat diminta untuk tidak mendekati wilayah tersebut. Hal itu untuk mengantisipasi konflik satwa dan manusia terjadi lagi.
“Kalau habitat buaya, ya manusianya yang bergeser. Kan enggak mungkin kita main evakuasi evakuasi saja. Yang perlu itu sosialisasi dan mitigasi untuk meminimalisasi korban,” katanya.