Selain itu, faktor psikologis masyarakat baik secara internal maupun eksternal menjadi faktor pendukung lainnya kenapa tawuran tersebut terus berulang. Secara internal, faktor tersebut berupa pola pikir masyarakat dan kultur yang dibawanya.
"Sementara eksternal bisa dipengaruhi kondisi yang berkembang saat ini hingga masyarakat mengalami stress," ucapnya.
Agus mengimbau penyelesaian tawuran di kawasan Belawan tersebut harus diselesaikan dengan melibat tokoh-tokoh masyarat, agama dan pemuda mulai dari level paling kecil. Langkah tersebut dinilai baik untuk mencegah konflik tersebut pecah kembali.
"Libatkan tokoh agama seperti nazir masjid, sintua, ataupun tokoh agama dalam menyelesaikan persoalan ini. Libatkan baik mereka yang informal dan formal untuk membicarakan persoalan," ujarnya.
Agus berharap persoalan tersebut tidak dibiarkan berlarut-larut karena akan berimbas kepada masyarakat. Penjarahan hingga pembakaran yang terjadi adalah dampak dari persoalan yang terjadi di level grass root dibiarkan berlarut-larut.
"Kalau sudah sampai ke penjarahan, maka aparat harus mengambil tindakan tegas karena sudah masuk ke tindak kriminal," ucapnya.