Suku Batak menganggap Mangokal Holi adalah sarana untuk mendapatkan hagabean (panjang umur) dan hasangapan (kehormatan).
Pasalnya, mereka meyakini bahwa leluhur yang telah meninggal harus dihormati untuk mendapatkan kehidupan yang lebih baik.
-Memberikan penghormatan kepada orangtua atau leluhur.
-Mengangkat derajat dan kehormatan marga.
-Mempererat tali persaudaraan dalam marga.
-Mendapatkan keberkahan dari nenek moyang.
-Menyatukan jasad nenek moyang dalam satu tempat yang sama.
Secara umum, tidak ada aturan pasti mengenai waktu pelaksanaan Mangokal Holi. Akan tetapi, orang-orang dari suku Batak biasanya melangsungkan tradisi ini setelah bermimpi berjumpa leluhur atau tetua yang sudah meninggal dan memohon untuk dipindahkan tulang belulangnya ke tempat yang lebih tinggi.
Dalam praktiknya, Mangokal Holi biasa memakan waktu selama berhari-hari. Pasalnya, terdapat sejumlah prosesi sebelum menuju ke agenda utama.
Sebelum Mangokal Holi dimulai, sekelompok orang dari marga tersebut akan meminta izin keluarga istri untuk melakukan penggalian kuburan. Setelahnya, kuburan leluhur akan digali untuk diambil tulang belulangnya.
Tulang belulang tersebut akan dicuci bersih lalu ditempatkan di sebuah peti yang nantinya akan diletakkan di sebuah tugu. Dalam upacara tersebut, hidangan berupa nasi dan daging kerbau juga dihidangkan.